Tentang ibukota , pertama kali

Sesungguhnya, ini bukan kali pertama kali ke jakarta, bunda saya pada suatu ketika pernah bercerita kalau saat saya masih dalam kandungan bunda menghadiri sebuah seminar di Jakarta, dan saat itu bunda mengajak saya melihat monas. yang demikian ini lebih baik untukmu, jika kamu mengetahui

Kalimat di atas Cuma pembuka biasa kok, Cuma karena dikasih effect italic jadi terkesan keren gitu. kerasa ga ?  biasa,  Modus. Seperti biasa cerita kali ini bukanlah cerita istimewa, cerita curhatan biasa dari orang biasa, ini cerita tentang anak kampung yang ke ibukota, cerita tentang cowo kere(n) saat pertama kali ke Jakarta

Besar di kota kecil terkadang membuatmu sukses merasa kecil di kota besar

Kalau bukan karena job fair yang diadakan di istora senayan, mungkin saat itu saya belum menginjakkan kaki di ibukota, itu pun setelah melewati pemikiran dan timbang menimbang , perang pemikiran dengan diri sendiri selama beberapa hari. Cacad  Mental orang ini.

Saya tidak tau apa yang saya takutkan untuk pergi ke Jakarta, mungkin karena tak ada panggilan hati ,seperti yang dilakukan kota ini, bandung.

Orang banyak : bandung? Kenapa ga langsung ke Jakarta aja? Disana lowongan lebih banyak. Kalo ga Kalimantan aja sekalian

Saya : ga tau ya bapak bapak ibu ibu , tapi ada semacam suara yang memangggil saya dibandung,yang kira kira bunyinya gini : mulailah dari bandung..

Orang banyak : mengejar cinta ya ? katanya itu guru tk disana

Saya : ah, itu mah. Sambil menyelam minum air *tersipu*

Harus ubah persepsi, bukan lagi  tentang komunikasi, ini murni transportasi

Transjakarta, hal yang pertama kali saya ‘pelajari’ di Jakarta. Mulai dari tiket sampai transit, dari macet sampai antran super panjang  ketika magrib. Saya yang biasa berkomunikasi di angkutan, terutama dengan si pak supir yang duduk dimuka, SKSD palapa ( sok kenal sok deket padahal ga tau apa apa-80 an banget ya ? ) harus membiasakan suasana yang sunyi , tanpa komunikasi.kesempatan untuk pdkt ama cewe cewe manis pun menjadi terbatas ( bukannya tidak bisa). Selama dua hari, harus terbiasa perpindahan dari suatu tempat ke tempat saja, tanpa perpindahan nomor hape atau pemantik api ke dalam saku.

Ada ratusan lowongan kerja, ada seribu pencari kerja, dan ada panitia yang tidak siap dengan angka sedemikian

Selain pertama kali kejakarta, ini juga kali pertama saya mengikuti job fair, padahal dikampus saya tercinta di kota padang sudah ada beberapa kali job fair, dan entah kenapa saat itu saya belum tertarik untuk mengikutinya, mungkin yang membuat saya tertarik untuk mengikuti job fair di ibukota adalah keterlibatan beberapa media cetak dan elektronik tingkat nasional. Salah satu pilihan karir yang muncul di otak saya setelah lulus kuliah.Namun,  apa mau dikata, ribuan orang yang  berjubel dalam tempat yang relative kecil, membuat saya memilih untuk meninggalkan gedung lebih cepat. Sepatu kets dan rambut gondrong  sepertinya belum mendapat tempat ditakdirkan berlabuh kali ini.

Ternyata sesuatu yang hot itu tidak selalu sexy

Panasnya Jakarta adalah satu alasan lain yang membuat saya merasa tidak ( baca: belum ) cocok merasa di Jakarta.  Saya jenis cowo cool, yaitu jenis cowo yang lebih keren ketika berada di daerah dingin apalagi dibawah guyuran hujan. Saya masih mau bersweater dan berjacket ria dan mau tidur nyenyak dalam balutan selimut tebal.  Dan saya, bisa mendapatkan hal itu di kota yang sekarang.

Bahwa ini bukan tentang kotanya, ini tentang niat yang ada

Apapun keluhan saya, bagaimana pun menyebalkan dan tidak mengasikkannya Jakarta dimata saya, toh, tetap saja Jakarta itu magnet yang mampu menarik logam2 kecil disekitarnya, Jakarta tetap saja gula, yang menarik semut semut kecil di sekitarnya.  Para besi dan semut semut ini tetap saja bekerja dan (mungkin) mencintai Jakarta, separah apapun kota ini. jadi ini sebenarnya ini Cuma masalah niat dan kemauan.

Jadi kapan saya akan ke Jakarta?

 Entahlah, kemaren ada sebuah perusahaan yang minta saya ditest di Jakarta, tapi..setelah saya balas, belum ada balasan lain sampai berita ini diturunkan.jadi maaf ya fans di Jakarta, kita belum sempat ketemuan. Doakan saja, kalau jodoh, saya akan ketemu nikita willy di pasar minggu.

Terkahir, selamat buat Jakarta , selamat buat sang penantang,  saat janji2 terpenuhi, saya kan datang..

Mudah2an bisa membuat Jakarta baru yang lebih terang, lebih tenang. Membawa Jakarta menuju makna terdalam namanya  : kota yang menang .

Advertisements

2 thoughts on “Tentang ibukota , pertama kali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s