KHODAM 2 : FEELING

Sudah satu minggu semenjak peristiwa di rumah sakit, dan vorest pun sudah kembali ke kampus.

Hari-hari berjalan normal

Setidaknya buat orang lain…

****

Aku baru saja keluar dari ruang kelas kuliah terakhirku hari ini, lumayan, 2 jam berhasil aku habiskan untuk tidur, tanpa ketahuan atau disuruh keluar. Aku tidak tau apa dosenku benar-benar  tidak menyadari ketertiduranku atau sudah terlalu cape mengurus aku. Aku tidak peduli itu. Prinsipku, malam terlalu luar biasa digunakan untuk sekedar tidur.

Ares..Ares….

Seseorang memanggil namaku, aku melihat ke kiri dan ke kanan, tapi aku tidak menemukan siapa-siapa yang memungkinkan memanggil namaku. Fadil, sohibku itu tidak masuk hari ini, dia berencana menemani vorest entah kemana, aku lupa dan aku sebenarnya tidak peduli.

Ares..ares..

Lagi-lagi

Aku melihat kebelakang, tapi juga tidak kutemukan sesiapa…

Sepi.  Sepertinya semua rekan rekan ku sudah langsung pulang seusai kuliah tadi. Sekarang didepanku Cuma seorang kakek tua yang sedang membersihkan gedung kuliah ini.

Ares..dibawah..

Ah, ternyata Ipat , temannya Vorest , dilantai bawah yang sedang mendadah dadah kepadaku.

Aku tertawa sendiri,bisa bisanya aku tidak melihatnya, aku menyalahkan gelap, selain mataku yang memang masih belum konsentrasi penuh. Aku bergegas menuruni  tangga, menuju kearahnya

“Yo, ada apa pat? “

Fatimah, sebelum kenal dengan Vorest aku sudah mengenalnya pada masa orientasi GRESS , majalah kampusku, yang akhirnya kutinggal begitu saja. Sementara mahluk manis berkacamata didepanku ini tetap melanjutkan, dan setahuku sekarang dia sudah menduduki salah satu posisi penting di UKM ( Unit Kegiatan Mahasiswa) tersebut.

“Ga ada, iseng aja manggil kamu, tumben sendirian ?”

Aku tersenyum, sendirian? Itu sudah menjadi teman akrabku,mungkin melebihi fadil, ya, aku sudah terlanjur mencintainya.

“Udah biasa kali, yang aneh itu kamu, tumben sendirian? balasku tanpa maksud apa-apa kemudian berjalan kearah parkiran”

Dia tersenyum sangat manis

“Mau gimana…, yang lain pada sibuk ama pasangan masing-masing, beginilah nasib jomblo “ ujarnya diikuti senyuman lagi

“ Mo pulang res?” tambahnya kemudian

Aku Cuma mengangguk,

“Kamu suka ngopi ga ?”  ujarnya lagi,

“Suka sih, kenapa?”

“ Hmm.. lagi males pulang  nih, ngopi dulu yuk, its on me.. ga ada acara kan  habis ini ?”

Aku berhanti tiba-tiba. Sama tiba-tibanya dengan ajakan ini, aku memang tak punya acara khusus sepulang kuliah ini ,kecuali,mungkin, menyelesaikan permainan video ku yang tertunda..

“hmm…boleh deh,dimana?” aku memain-mainkan hape di tanganku

“ Terserah ”

“Paradise”

Tanpa berpikir panjang aku menyebutkan nama itu , karena aku memang  tidak punya pilihan lain selain Paradise, seperti nya aku harus menyalahkan Fadil untuk keterlibatanku dalam hal hal sejenis  ini.

Tiba-tiba handpone Ipat berbunyi, dia mengangkatnya dan kemudian berkata tanpa suara “bentar” ke padaku

“Oke, kakak ke sana sekarang, jangan panic  “

Dari nada bicara ipat barusan, sepertinya  ajakan yang barusan terancam gagal, aku tidak tau musti  gembira atau sedih

Ipat menutup telponnya

“res, kamu temenin aku ke GRESS ya, juniorku  ada yang kesurupan “

“Kesurupan ?”

Ipat menjawab pertanyaanku dengan menarikku keaarah mobilnya di parkiran, kami masuk, dia menyalakan mobilnya dan kami langsung memutar menuju Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM ) yang tidak begitu jauh dari gedung perkuliahan kami tadi.

Kami memasuki  gedung PKM dan langsung menuju sekretariat majalah GRESS yang ternyata sudah rame baik dari anak GRESS dan anak UKM lain.

Uda Handoko mana?” seorang cewe yang sudah terlihat panik bertanya kepada ipat

“Dia masih ada kelas, bentar lagi kesini” jawab Ipat pendek

“Nola ga apa-apa?” Tanya Ipat kemudian

“Sudah di kasih air putih, tapi masih ngomong ga jelas gitu”

“AAAAAA…. PERGI KALIAN, TUBUH INI SUDAH MENJADI MILIKKU…PERGI!!!” suara mengerikan muncul dari dalam kerumunan.

Ipat tiba-tiba menyeruak kedalam, entah kenapa aku tiba tiba ikut masuk kesana.

Nola, cewe yang tengah kesurupan tiba-tiba melihat kearah ipat..LAMA dan DALAM..

Ipat kemudian otomatis memegang tangan nola yang kemudian diikuti teriakan kesakitan nola

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGHHHH”

Semua yang ada disana termasuk aku otomatis melihat kearah ipat yang tengah kebingungan sendiri  dan kemudian melepas genggamannya pada tangan nola. semua diam sampai tiba-tiba cowo hitam manis berbadan tegap datang, dia meletakkan ranselnya kemudian duduk bersila dilantai.

“Untunglah.. uda hand”. Lirih ipat pelan

“APA MAUMU?” Ujar cowo yang dipanggil ‘uda hand’ bertanya ke nola sambil menatap tajam

Nola tersenyum kemudian bergerak merangkak mundur  sambil terus mentap uda hand, kemudian dia ikut duduk bersila  berhadap hadapan dengan  si penanya.

“Tidak adil..”ujarnya perlahan, seolah mendesis

uda hand memberi isyarat kepada Ipat untuk membawapara penonton lain keluar dari ruangan , dan Ipat pun menyanggupinya

***

Kurang dari setengah jam kemudian, aku, Ipat dan beberapa orang yang masih berada di depan sekre pun  berebut menemui uda hand yang keluar dari ruangan sekre tersebut

“Sudah aman” ujarnya perlahan kepada Ipat , aku dan yang lain yang sudah seperti keluarga yang menunggu kelahiran anak dan cucu pertama mereka.

***

“Untung kamu tadi tidak didalam pat” Ujar uda hand beberapa saat kemudian setelah sekre sepi, setelah meneguk segelas air yang dingsurkan iapt kepadanya

“Memangnya kenapa bang?”

“Dia naksir kamu” jawabnya pendek smabil menggulung lengan kemejanya

“Maksud uda?” aku yg dari tadi diam tergelitik juga buat bertanya

“dia mau pindah ke dalam tubuh kamu”  uda hand menunjuk  Ipat, sekaligus memperbaiki duduknya

“ setelah yang kemarein dulu, kamu masih pernah kesurupan?” tanyanya kemudian

Ipat menggeleng

“uda juga  ga tau kenapa, tapi kayanya kamu salah satu favorit mereka”  uda hand tertawa

“ uda becandanya horror ah “ potong Ipat merengut

Aku pun menaikkan alisku,walau aku cukup tau kemana kata mereka itu merujuk, menurutku uda hand terlalu santai untuk menyandingkan itu dengan kata ‘naksir’.

“ sorry..sorry, uda balik duluan pat”   dia  kemudian  mengankat ranselnya “eh, Handoko” ujarnya mengulurkan tangan kepadaku.

Aku menyambutnya, Uda hand terlihat  kaget ketika tangan kami bersentuhan , matanya memancarkan keheranan

“Ares” ujarku cepat kemudian melepaskan tanganku

“Sorry…” sambungnya

“ Pat, uda balik dulu”

kemudian ia berbalik.” titip Ipat res, hati-hati”  ujarnya sambil menepuk pundakku.

Aku Cuma bisa diam dan cukup heran dengan perlakuan kenalan baruku tersebut, aku menoleh ke Ipat yang kemudain Cuma dijawab dengan gerakan  bahu.

**

Setelah Nola dijemput oleh  orang tuanya  dan PKM juga sudah mulai sepi, maka aku dan Ipat juga bermaksud meninggalkan TKP. Dari perbincangan selagi menunggu kedatangan orang tua nola tadi aku baru tau kalau uda handoko tadi merupakan senior ipat di Gress yang sekarang sudah menjadi dosen muda di fakultas tehnik di kampus kami. Dulu, ipat juga pernah kesurupan di tempat ini  dan bang hand jugalah yang ‘menyembuhkan ‘ ipat.

Setelah mengunci sekre GRESS,Kami bergerak menuruni tangga dari lantai dua, ketika mataku secara tak sengaja menangkap seorang bapak tua yang sedang membersihkan ruangan disekitar sekre GRESS.  jika mataku tidak salah, bukankah bapak ini juga yang tadi bertemu denganku di gedung kuliah?

Mungkin bapak ini juga yang bertanggung jawab disni, aku menjawab kebingunganku sendiri.

Kami pun menuruni tangga dan berpapasan dengan seorang  security yang masih bertugas.

“Balik dulu mas ulil” ipat pun menyapa rumah

“ Oke non, hati-hati” jawabnya ramah

Sepertinya Ipat sudah akrab dengan penghuni PKM, maklum, aktivis, beda denganku yang sepulang kuliah langsung menuju ke kampung keduaku, dunia maya.

Kami sudah dekat dengan mobil ipat saat ipat berhenti tiba tiba.

“Ada apa?” tanyaku heran

“ bahan-bahan  besok ketinggalan di sekre, kamu tunggu disini ya ray, aku balik bentar “ jawabnya

Aku pun menyangupi

***

Aku baru saja hendak menyalakan rokok ketika tiba-tiba  ruangan gress terlintas dipikiranku. Aku memenjamkan mata dan menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan bayangan tersebut. aku membakar rokokku kemudian menghisapnya pelan.

SIAL !! ujarku tiba-tiba! aku mmebuang rokokku dan berlari kedalam, menaiki tangga dan langsung menuju ruang GRESS, kalau seandainya ada yang  melihatku berlari sedemikian rupa pasti  bisa terheran-heran  .

Aku sampai di ruangan GRESS yang berada paling pojok. Aku masuk dan ternyata didalam, Ipat terlihat sudah menyender ke dinding, terlihat ketakutan menghadapi seseorang, dan aku pun  bermaksud  menghantam orang didepanku yang tak lain mas ulil si security!

Tapi sebelum aku melakukan itu, semerta merta dia berbalik, menunjukkan matanya yg memutih penuh ke padaku!1  dan sedetik kemudian menghantamkan tongkat nya ke  kepalaku

Aku berhasil mengelak, namun pelipis kananku sepertinya  sedikit tergores!

Aku pun mundur, bergerak keluar dari ruangan itu, dia pun mengikutiku, baguslah,paling tidak aku bisa membuatnya menjauhi ipat..

Tak kuduga, dia kemudian melompatiku dan berhasil mencengkram krah kemejaku!

“SIAL!” Aku mencoba melepaskan diri, tapi ternyata mahluk ini lebih kuat.ya, aku yakin, ini bukan mas ulil yg aku temui tadi.

Buktinya Dia berhasil membantingku kembali ke arah dalam dengan hanya menggunakan satu tangannya.

Dia mendatangiku,  mengambil tongkatnya dan bermaksud menghabisiku saaa tiba tiba diantara aku dan dirinya  sudah berdiri kakek petugas kebersihan tadi

Tongkat si satpam berhasil ditahan dengan gagang sapunya!

“PERGI “ujar beliau pendek, pelan. aku tidak tau, ini untuk aku atau mahluk yg merasuki security tersebut.

Yang pasti mas ulil melompat  ke udara dan mengayunkan tongkatnya, tubuhnya seolah-olah sangat ringan,tapi si kakek segera menghantamkan telapak tangannya ke badan security tersebut. Sampai security tersebut jatuh tak berdaya.

“PERGI..!!” ujarnya sekali lagi ucapnya keras kearah kami. kuakui ,walau dia penolong kami, suaranya tetap membuat bulu kudukku merinding.

Aku segera berangsut ke arah ipat, kami segera keluar dari gedung ini dan berjalan menuju parkiran.

**

Kami  bersandar di mobil ipat

“kamu ga apa-apa res?” malah ipat yang menanyaiku duluan

“fine” jawabku pendek dengan nafas terengah-engah

ipat mengeluarkan tissue dan mengelap kepalaku. Aku tidak tau kenapa, tapi  seiring senyumannya rasa  sakit yang tadi sempat kurasakan di  kepalaku,  perlahan mulai menghilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s