CERITA DUA HARI INI

awak menunggu tando dari kosmos”

Ujar ray pelan ketika fadhil, seorang sahabat mengajaknya untuk mendaftar ujian demi mengakhiri sebuah ‘kewajiban’ yang sudah mereka laksanakan beberapa tahun belakangan.

“tandanya apa?” fadil melanjutkan, masih keheranan

“ ah, awak juga tak tahu, tapi entah kenapa, wak picayo tanda itu akan segera muncul” ray menjawab dengan yakin

“sudahlah , kalo begitu, sampai ketemu besok, kita liat saja”

Fadil pun menutup telpon, dan ray tau, ada nada kecewa dari kalimat terakhir sahabatnya itu.

***

Ray baru saja akan menyalakan Watson, notebook hitam partnernya dalam suka dan duka, saat tiba-tiba nada dering lagu pembuka doraemon memecah kesunyian kamarnya, sekaligus membuat sekotak cahaya dikamarnya yang memang tak bersumber cahaya tersebut.
Ray mengangkat handponenya.

“ malam beb” Sapanya pelan kepada penelponnya, yang dibalas tak kalah mesra dari seberang sana.

Seperti yang kita sama –sama yakin dan percaya , cewek manis dan sexy ini bukan lah kekasihnya sang tokoh utama, rayes mahendra. Dewi, nama asli si penelpon, adalah seorang teman sesama penganut penyakit gila akut. cewe sexy ini juga sedang terlibat pedekate dengan salah seorang teman kostannya si ray . Selanjutnya, jangan pertanyakan masalah beb yang muncul diawal percakapan, karena dewi memang menyapa setiap pengemar setianya dengan 3 huruf tersebut.

“ beb…. Galau beb, curhat…” ujar dewi manja diseberang sana

“ ada apa beb, im all ears”

“ buk rika beb..” ujar dewi menyebut nama pembimbing satu skripsinya, yang kebetulan juga pembimbing dua skripsi tokoh utama kita kali ini

“ buk rika berangkat ke bandungnya SABTU INI BEB !!” sambung dewi dan menunjukkan level kegalauannya di dua kata terakhir

“serius beb? Bukannya februari? “ balas ray yang tentunya juga punya keperluan dengan buk rika ini, demi mendenger keberengkatan ini. ray cukup kaget juga.

“awalnya iya beb, tapi ada perubahan mendadak, diriku belum tanda tangan dan sebagainya beb, gimana donk beeeebb” dewi semakin menggalau

Ray menarik nafas panjang, kemudian memulai kuliahnya, yang sudah dikuasainya semenjak tahun kedua saat dia masih bercelana putih biru

“tenang beb.. begini…..”

**

Ray menyandarkan kepalanya , empuknya bantal masih belum bisa menghilangkan sakit tiba-tiba dikepalanya. Dia memang slalu begini, bisa kelihatan begitu tegar ketika memberi nasehat dan menenangkan orang lain, namun sangat rapuh, ketika masalah yang sama terjadi kepada dirinya sendiri

“biaso tu, tukang cukua se ndak bisa mancukua rambuiknyo surang do kan?”

Tiba-tiba petuah almarhumah neneknya dalam bahasa daerahnya terngiang dikepalanya. ia tersenyum sebentar.kemudian memutar badan besarnya, mencari posisi enak untuk merenungkan permasalahannya
Sebenarnya, permasalahannya tidaklah terlalu rumit, paling tidak, tidak serumit dewi yang kehilangan pembimbing satunya ketika sidang besok, orang yang bertanggung jawab atas isi skripsinya, tentunya setelah dirinya sendiri.

Buk rika, adalah pembimbing dua bagi ray, penanggung jawab masalah grammar, yang bukan berarti tidak signifikan, tapi masih belum segawat yang dihadapi dewi. Namun yang ditakutkan ray sebenarnya bukan ketidak hadiran buk rika, tapi dia takut, ketika pembimbing satunya, buk liza, jadi hilang mood gara-gara ketiadaan partnernya.Usut punya usut, ternyata buk liza sudah memperingatkan ray jauh hari, untuk tidak menunda-nunda pendaftaran ujiannya.

“Huff..”

Tiba-tiba dia bangkit dari kuburnya..

Maksud saya, dari tidurnya

Kemudian menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya perlahan..
Dia menghembuskan asapnya kelangit-langit kamar.

tiba-tiba dia terlihat agak tenang dibandingkan sebelumnya. Dia meraih hapenya dan mengetik pesan singkat

“dil, seperti awak bilang.tandanya sudah datang”

***

Pagi pagi sekali ray sudah berdiri didepan kaca di luar kamarnya.
Dia terlihat rapi dengan rambut yang dikuncir,kacamata minus, stelan kemeja biru yang dikancing dan jeans yang sudah tak dicuci sau minggu. Ok, yang terkahir memang sedikit mengurangi penampilannya, tapi kalau pembaca tau bagaimana ray biasanya, ini sudah jauh lebih baik, jauh lebih waras.

Tak lama, dengan langkah kaki yang tegap dipandu sneakers KW sekiannya, ray pun menyatroni sebuah rental computer di kawasan pasar baru, sebuah kawasan yang dipenuhi anak kostan kampusnya.
Nada doraemon hapenya, berbunyi lagi,

Antasena, nama yang ditulisnya untuk nomor adek pertama di hapenya, ya, bocah ini memang merasa ia gatotkaca, lihat saja, nomor saudaranya yang lain juga disimpan dengan nama antareja.

Ada jeda , ketika telpon diangkat…

“ bang, bunda masuk rumah sakit”

Ada perasaan aneh, sesak, baru kemaren ia mendapat kabar buruk, sekarang datang lagi satu kabar yang..

“ bunda ..kenapa?” tercekat.khawatir

“ tadi pas lagi ngajar, tiba-tiba pusing, trus pingsan, sekarang lagi di UGD”

Tiga huruf terakhir makin memecah konsentrasinya.

“ gini, habis jumat abang mau daftar buat ujian, habis ujian abang segera kesana, jaga bunda, jangan lupa segera kasih kabar kalau ada apa-apa “

Ujarnya mencoba tenang berbicara dengan adeknya, kemudian menutup hapenya
Dia tertunduk di meja computer didepannya.

**

Habis jumat, tokoh utama kita dan sohibnya fadil pun mendaftarkan berkas mereka untuk mengikuti ujian akhir

“Udah, segini doank? “Ray bertanya ke fadil, ga yakin

“Iya, kayanya udah, emang segini aja” jawab fadhil “ barak lah” sambung fadil kemudian, mangajak ray ke café kampus dimana mereka biasa ‘hang out’

Ray mengangguk,sambil menekan kembali sebuah nomor,

Entah sudah berapa kali, sang antasena masih belum mengangkat telponnya

**

“Akhirnya, mendaftar juga jagoan kita ini” sambut ulil, temannya yang lain, seorang figuran, ketika di sampai di barak.

Ray Cuma menanggapinya dengan senyuman. Sungguh, dia terlihat gagah kala tersenyum begitu

“ mas bro…mas bro lah daftar yo, bilo ujian?” sebuah suara heboh datang lagi menyambung setelah ulil. Kali ini suci, seorang cewe cute yang rada lemot

“udah mbak sis, tapi belum ada jadwal, palingan senin” ray masih mencoba menjawab dengan cool nya

“ oo, gitu yo mas bro, yolah, bisuak jadi kan ?”

Ray tersenyum, besok, malam minggu,anak-anak barak diundang suci ke rumahnya buat acara sukuran kelulusan suci, yang udah kompre duluan dibanding ray dan fadil. Beberapa hari yang lalu, suci sengaja menghubungi ray untuk menanyakan hal ini, dan ray menyanggupinya.

Tapi sekarang..

Tulisan BUNDA muncul di layar.Ray mengangkat telponnya
“baa bunda?”

“ gapapa kok nak….tanang .bunda mungkin terlalu lelah, dan mungkin darah tinggi bunda lagi kumat”

“ yakin, bunda ga apa-apa?”

“ga apa-apa, kalo parah ga mungkin bisa nelpon kan nak?” jawab bunda dari sana

Ray diam, senyumnya sedikit mengembang

“ jadi daftar ?” Tanya bunda kemudian

“udah bunda, tapi jadwalnya belum ada, mungkin senin”

“iya, sabar aja, tunggu sajolah,bunda gapapa kok, assalamualaikum”

“makasih bunda…waalaikum salam”

Ray duduk di kursi depan fadil yang sedang sibuk dengan pecel ayamnya. Suci duduk tepat di sebelahnya

“ sakik yo, bundanya mas bro?”

“ iyo mbak sis..kayanya denai musti balik sekarang, jadi, maaf yo ndak bisa hadir di acara besok” jawab ray

“ ok mas bro,mas bro jan cameh yo, ado yang jago kan disinan? Salam yo, untuak bunda mas bro”

“ sip,makasih mbak sis” jawab ray pendek, kemudian menoleh ke fadil yang sepertinya sudah menghabiskan makanan di depannya

“ bawah lai dil?” Tanya ray

“5 menit” jawab fadil pendek, dan ray menyanggupinya

Dan lebih dari 5 menit kemudian, ray pun bermaksud meninggalkan barak sambil pamitan kepada yang lain, dan para figuran penting ini pun menyanggupi dan sempat titip salam buat kesembuhan bunda ray

“makasih semuanya” ujar ray. Terharu

Ketika hendak beranjak dari kursi,

“ hati-hati yo mas bro, eh mas bro ternyata ok lho, kalo rapi kaya gini, apalagi kalau rambutnya di potong pendek “ cerocos suci
Ray tersenyum keren lagi,kemudian berlalu dari sana bersama fadhil.

**

Ray membuka pintu kamar dimana bundanya di rawat,diikuti reza, adeknya yang menjemputnya setelah turun travel tadi. Didalam ruangan sudah ada fadli, adeknya yang lain, dan papa, lelaki idaman bundanya.
Bundanya sendiri sedang menikmati sinetron kesukaannya dari tempat tidur,sinetron yang dalam keadaan biasa pasti menjadi bahan perdebatan antara bunda dan dirinya.

bunda tersenyum melihat kedatangan putra sulungnya ini. ray membalas senyuman beliau, walau rada khwatir juga dengan selang infus ditangan kanan bundanya

“aman bunda?” Tanya ray kemudian duduk di kursi sebelah tempat tidur
Bundanya tersenyum “ aman, bisa lihat sendiri kan? “
Ray tersenyum lagi

“ bunda Cuma lagi ingin cari suasana beda ” jawab bunda berseloroh

Papa tertawa, reza, adeknya pun ikut berkomentar

“iya, udah lama kan kita ga ngumpul bareng, di satu tempat selain di rumah”

Ray mencoba ikutan tertawa, karena ada benarnya juga, udah lama keluarga mereka ga ngumpul di suatu tempat yg bukan rumah. Reza sibuk dengan percetakannya, fadhli sibuk ngurus warnetnya dan ray sendiri sibuk nulis lanjutan novel pertama yang sukses jadi best seller. Tidak, itu khayalan beberapa tahun kedepan.Amin.kenyataannya adalah, sering ray dan reza ga pulang dalam minggu yang sama dari tempat kuliah mereka,sementara fadhli sibuk tenggelam dengan game2 onlinenya. Klise memang, tapi memang ada hikmah dalam segala sesuatunya.

Nada pesan di hape ray berbunyi. sms dari dewi

Dah nyampe? bunda gimana beb? Semoga Cepat sembuh ya..

Huff.besok pasti sepi ga ada bebeb

ray tersenyum, dia sudah hafal dengan gombalan temannya satu ini

udah, udah aman kok, ni udah ngobrol2.

Makasih ya beb, besok have fun ya,

Ga bakal sepi. Kan ada dewi yang ga kalah gila..

SENT. Dan obrolan hangat keluarga kembali berlanjut.

**
Ray menginap di rumah sakit malam ini, papa, reza dan fadhli sudah pulang dari tadi. Bundanya juga sudah tidur dengan lelap.
dibalkon yang sebenarnya bebas asap rokok, terlihat Ray sedang menikmati indahnya lampu kota sambil menghirup rokoknya.
kemudian, dia pun mendial sebuah nomer, tak lama seseorang di seberang sana mengangkatnya

“ai, bunda dirumah sakit” ujarnya pelan

“ serius ai? Kenapa?” Tanya lawan bicaranya, penasaran.

“ iya ai. Ini aku lagi nemenin bunda.ga tau, di skolahan tiba-tiba pingsan, trus sekarang dirawat deh”

“tega mah si ai, udah berapa hari ga nelpon, eh sekalinya nelpon ngasih kabar kaya gini” ujar si gadis kemudian “trus sekarang keadaan bunda gimana?”

“udah mendingan, tadi udah ngobrol2, udah kaya biasa. Mungkin kelelahan aja ai”

“ iya, mungkin, , kali aja sibunda lagi kangen ngumpul ama anak-anaknya. Makanya ai, kalo pulang itu dirumah. Ai mah udah pulang jarang, sekalinya pulang keluyuran”

Ray tertawa mendengar komentar mojang bandung tersebut

“eh, tadi aku dah daftar lo ai” lanjut ray

“serius? Alhamdulillah,akhirnya… tapi kok baru tadi sih ai, ? lelet amat…”

“ nunggu pertanda dari kosmos ai” jawab ray pendek pada guru TK yang dicintainya itu.

NB : tulisan ini tidak semata-mata fiksi belaka, nama2 nama adalah nyata, namun tidak semua dialog sesuai adanya, yang mana fiksi, yg mana fakta, yg mana yg ditambah yang mana dikurangi, cobalah terka.satu hal yang patut anda percaya, tokoh utama, tak setampan pangeran yang ada dalam imajinasi anda.

Advertisements

2 thoughts on “CERITA DUA HARI INI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s