KHODAM

 

Aku sama sekali tidak menyangka akan bisa berkumpul dengan mereka Disini

Karena aku sama sekali tidak sama dengan mereka, aku berbeda.

Bukan…

mereka berbeda

 

***

 

Chapter 1:  MUTANT ???

 

“Gw yakin banget kalo gw mutant”

 

Ujar ridwan pendek di café dimana aku belakangan sering ikut terlihat. Ridwan. Aku mengenalnya lewat fadil. Teman akrabku  di kampus. Ridwan adalah salah satu teman dari sekian hobi fadil. Fotografi. Ya, ridwan yang beda kampus denganku ini adalah seorang fotografer muda yang cukup ternama di kota kami.

 

Sore ini fadil sengaja menjemputku untuk bertemu ridwan di- paradise- Nama café tersebut.karena menurut fadil aku akan tertarik dengan apa yang diperbincangkan ridwan sore ini.

Aku tertawa, dan melihat kearah fadil . fadil tertawa balik

 

“gimana?”

 

“Lets see’ jawabku pendek

 

“lanjut wan..”  ujarku kembali ke ridwan

 

“awalnya gw mikir ini Cuma kebetulan .tapi hampir tiap kali kalo gw bawa motor ato mobil gw.lampu jalan dekat gw akan padam. Sebaliknya, kalo padam, dia bakal nyala “ terang ridwan bersemangat

 

“ yang diomongin ridwan benar, gw saksinya, tapi gw ga begitu yakin mahluk ini adalah mutant” ujar fadil langsung ke tujuan, tapi  fadil ikut bercerita tentang kejadian aneh lampu jalan sewaktu bersama ridwan.

 

“ electrokinetik”  ujarku pendek, kemudian aku menghela nafas panjang “ tapi itu masih kemungkinan, terlalu cepat kalo kita menyimpulkan demikian” sambungku yang ternyata berhasil menarik perhatian dua lawan bicaraku.

“kemampuan untuk berinteraksi dan mengendalikan gelombang listrik, itu simpelnya” terangku diikuti pandangan ingin tahu keduanya

 

“ sekarang kita test” ujarku serius dan mengarahkan telunjukku ke atas

 

Fadil tersenyum, “ayo wan” semangatnya pendek.  Ridwan mengangguk mantap kemudian memjamkan matanya. Tangannya terkepal. Aku tersenyum sambil  memutar-mutar  handphone di tanganku.

 

Beberapa menit kemudian, ridwan terlihat sudah tak konsentrasi. Tak lama, ridwan bertanya

 

“ nyala ga?”

 

Fadil menepuk-nepuk bahu ridwan, “ sabar wan,mungkin  butuh usaha lebih”

Ridwan membuka matanya 

 

“huff, masih belum ya. Loe berdua tau ga, gw udah nyoba hal kaya gini berkali-kali” ridwan menyalakan rokoknya yang entah keberapa. Menghembuskan asapnya kemudian kembali bercerita” tapi kaya yang lo liat, gw belum berhasil sekalipun”

 

Kemudian ridwan mengulurkan tangannya kedepan,jarinya dibuka dan matanya menatap tajam pada gelas didepan ku.aku tau pasti maksud gerakan ini, telekinetic. Menggerakkan benda dengan kekuatan pikiran. Tanpa menyentuh benda tersebut.

 

Fadil  juga mengambil sebatang rokok, menyalakannya.kemudian menggeleng-geleng melihat tingkah temannya itu

“gw yang salah res, gw yang ngajakin ni anak nonton x-men first class beberapa hari  yg lalu ,tapi gw ga nyangka effectnya sampai separah ini”

 

Aku tersenyum sambil melepaskan kacamataku untuk membersihkan uap yang muncul dari kopi panas pesananku.

 

Tak lama kemudian ridwan menghentikan shownya, dia menggeleng  dan melihat kearah kami berdua.,  

“tapi gw tetap yakin kalo gw adalah mutant”

 

***

 

Aku Deares Mahayana, 20 tahun, teman-temanku  yang masih menganggapku “normal” memanggilku Ares.  Berbeda dengan para mahluk normal diluar sana, mereka memanggilku dengan sebutan  :   aneh , freak, geje atau yang terakhir yang cukup kusukai:  Burhan. Kependekan dari burung hantu, karena mau tak mau aku harus mengakui, komb inasi kacamata bulat dan tubuh gempalku ini memang kadang membuatku  terlihat seperti mahluk diatas. Satu lagi yang membuatku mirip dengan burung favorit dewi Athena ini adalah kecenderunganku untuk hidup di  malam hari. Karena menurutku malam terlalu indah untuk disia-siakan. Dan kembali ke panggilan awalku , hm.ANEH.. …itu dikarenakan untuk ukuran seorang mahasiswa normal, aku memang berbeda. Aku menghabiskan berjam-jam di warnet favoritku Cuma untuk bermain game online. dan sampai di kostan aku akan melanjutkannya dengan film-film berbau superhero ,dan jangan berdebat masalah komik denganku, karena hampir dipastikan kalau kalian tidak  akan bisa menang, dan bukan sekedar itu, aku sangat menggemari buku-buku tentang indigo,crystal kid,  evolusi, dan sejenisnya, dan semua itu aku lahap lebih banyak dibanding buku buku yang seharusnya menjadi santapanku di jurusan yang aku ambil di bangku kuliah ini. Tak heran jika aku dipanggil aneh atau..ga jelas..

 

Suara vespa  yang sudah akrab ditelingaku itu akhirnya melambat di depan pintu kamar kostan ku, tak lama terdengar ketukan .itu  pasti fadhil,mahasiswa nyentrik pemilik vespa antik yang sekarang sudah diparkir didepan kamarku.

 

“ masuk aja dil, ga dikunci” ujarku malas-malasan sambil  membolak balik lembaran  buku dihadapanku

Cowo brewokan itu masuk. Memang, karibku satu ini gemar sekali memanjangkan bulu bulu diwajahnya, kecuali bulu mata dan mungkin, bulu hidungnya. Tapi kumis jenggot dan jambangnya dibiarkan bersatu padu,diwajahnya, menciptakan kesan tua melebihi umur seharusnya, namun tak menghilangkan kesan tampan yang dimiliknya

 

“ tumben kesini, kamu ga jagain vorest?” tanyaku heran.soalnya vorest adalah cewenya fadhil, yang beberapa hari yang lalu tiba-tiba tak sadarkan diri dan terpaksa  dirawat dirumah sakit, yang sampai sekarang dokter belum menentukan apa penyakitnya.

 

“ udah, gw baru aja dari sana, ipat udah datang, mama papa nya vorest juga udah disana “ jelasnya

 

“sukur deh, trus kita bakal kemana nih?”

 

“ kemana? ? Ya ngampus donk.parah loe res, semalas-malasnya gw paling ga gw tau jadwal”

 

“ oo..ada kelas ya, lanjut deh,aku lagi malas masuk” ujarku sambil merebahkan diri kembali ke kasur

 

“ kacau, gw udah bela-belain jemput lo, lo malah ga masuk’

 

“ ya udah, gw cabut, bias ketularan penyakit  supermalas lo kalo gw disini” dia pun berjalan  ke arah pintu

 

Aku Cuma tersenyum

 

  “ jangan lupa absen gw dil dil” ujarku sambil menutup pintu, kemudian kembali ke kasur. Tengkurap dan  asik dengan bacaanku. Aku tak tau berapa lama, tapi  aku cukup kaget ketika suara scooter fadil terdengar kembali mendekat

 

Aku berdiri, membuka pintu

 

“vorest ” ujar fadil perlahan

***

 

 

Aku sudah berada di boncengan vespa fadil saat dia menceritakan kalau dia mendapat telepon dari ipat agar segera kerumah sakit, karena vorest sudah kembali sadar, tapi …

 “kesurupan?” ujarku perlahan  takut menambah beban pikiran fadil

“ga tau res, mungkin”  fadil menjawab pendek

“awas dil!” ujarku tiba-tiba saat aku melihat seorang kakek kakek  yang  tiba-tiba  berdiri di tak jauh di depan  kami

“Sial” fadil mencoba mengendalikan vespanya, namun sepertinya dia kehilangan keseimbangan dan hamper saja menabrak sedan  hitam yang dating dari arah berlawanan.dan … apa yang terjadi jadilah, aku pasrah” ujarku dalam hati

 

***

 

“apa kalian juga melihatnya ?” Tanya fadil sambil mengelus slengannya yang memar karena peristiwa tadi

 

Ya, pemilik sedan hitam di depan kami tadi ternyata adalah ridwan.dan kami sekarang berada diatas mobil baru tersebut.menuju rumah sakit dimana vorest dirawat.vespa antik fadil sudah kami titipkan di bengkel terdekat.  

Gonta ganti mobil bukan hal yg asing bagi ridwan, karena dia memang dilahirkan dengan nasib yang berbeda denganku. Yang mengherankan adalah kampusku  yang boleh dibilang cukup akran dengan aku dan fadil

 

“gw ketemu ama mahluk ini di seminar minggu kemaren” anda tiba-tiba bersuara

 

Aku kaget. Jawaban dari anda barusan seolah membaca pikiranku.aku baru ingat minggu lalu anda jadi moderator di sebuah seminar di hotel ternama di kota ini

 

“ ya, gw  ama anda  juga  ngeliat kakek-kakek itu” ujar ridwan sambil menoleh ke anda

 

“tapi..” anda baru saja hendak menyambung perkataaN ridwan

 

“ ya, dia menghilang tiba-tiba” potongku  pelan,

 

Tiba-tiba suasana di mobil menjadi berbeda, aku dan  yang lain menghela nafas, diam

 

“ kita sudah sampai, yuk turun, ujar ridwan” tak terasa ternyata kami sudah memasuki area parkir rumah sakit ini

 

***

 

“kalian duluan, gw ke toilet bentar” izin ridwan ketika kami sampai di depan kamar vorest

 

Fadil membuka pintu ruangan dan kami mengikuti di belakangnya, ada 4 orang yang mengelilingi vorest yang sepertinya sedang tertidur. Pria berkacamata bingkai perak berusia 50 tahunan, papanya vorest, seorang pengusaha multinasional,  kemudian seorang wanita diakhir 40 an, yang melihatnya pasti tidak akan heran dari mana vorest meperoleh wajah malaikat itu.aku sudah pernah bertemu keduanya di rumah vorest.  kemudian seorang cowo yang masih berseragam SMA yang kuduga adeknya vorest, dan terakhir , teman akrab vorest. Ipat,perempuan berkacamata minus ini juga satu kampus dengan kami, tapi berbeda jurusan.

 

“gimana keadaan vorest om?” fadil membuka pembicaraan

 

“ begitulah dil, kamu mungkin sudah tau , tadi vorest  sadar , tapi tiba-tiba saja dia  mengamuk, kami sempat panik, namun untungnya setelah diberi suntikan oleh dokter dia kembali tertidur, entahlah dil, om juga bingung”

 

Kemudian papa dan mama vorest mundur dari tempat tidur dan duduk di sofa yang emang disediakan di ruangan itu

Kami berempat mendekat ke tempat vorest,

 

“ dinda..” fadil berkata pelan sabil mengusap kepala vorest

 

Tiba-tiba

 

Vorest terbangun, matanya membesar…..

 

“AGGGGGGHHHHHHHHH”

 

Dia mendorong fadil   sehingga terjatuh ke lantai,ipat yang berdiri dekat fadil.segera memegang lengan fadil dan membantunya bangkit. kedua orang tua vorest  segera bergerak kea rah kami

 

Aku mencoba membaca ayat kursi, yang menurut kepercyaan keluarga dan orang didekatku mampu mengusir apapun itu namanya yang menganggu vorest .namun sia-sia. mahluk ini yang terlalu kuat atau aku yang tidak khusuk. Vorest malah mencabut tali infus dan berdiri di tempat tidur.

 

“PERGI DARI SINI!!! PERGI!!! ATAU KU HANCURKAN TUBUH WANITA INI”

 

“PERGI”

 

“vorest, ini mama nak, istighfar nak” mama vorest mencoba menangkan , mencoba mendekat, namun di  tahan oleh papanya

 

“AHHHHHH..SIAPA KALIAN??”

 

Suaranya terdengar berat dan menakutkan

 

 

“PERGI ATAU KALIAN JUGA AKAN IKUT MATI”

 

Tiba-tiba pintu terbuka,

 

Ridwan masuk dengan santai, dan semua mata melihat kearahnya, dia cukup kaget diperlakukan demikian, apalagi melihat vorest berada di atas tempat tidur dengan mata membesar

 

“TUAN PUTRI.., SAYA MOHON MAAF” vorest kembali bersuara

 

Semua mata, termasUk ridwan,kembali  ke arah vorest.suaranya melemah

 

“BAIKLAH TUAN PUTRI, SAYA TIDAK AKAN MENGGANGGU. SAYA PERGI”

 

Setelah itu vorest ambruk ketempat tidur,tak lama, Vino, adek vorest segera kembali bersama dokter dan suster.kami sampai tidak sadar kapan dia keluar

 

Kami semua kecuali kedua orangtua vorest segera meningglkan ruangan

 

***

 

Diluar kami semua Cuma diam, takut, kaget , khawatir bercampur menjadi satu, ipat duduk di bangku sambil menelungkupkan kedua tangannya. Ridwan terlihat menangkan Anda yang  ternyata membuat  aku cukup kaget, dia ternyata bisa menangis juga dalam keadaan seperti ini, karena  aku mengenalnya sebagai cewe yg cukup kuat.

 Aku mengalihkan pandangan kearah fadil yg berdiri di sampingku

 

“kamu gapapa dil” tanyaku memecah kesunyian

 

Fadil mengangkat lengannya “gapapa, Cuma luka di..” fadil  melihat kearahku,heran

 

Aku tau apa yang membuatnya begitu, karena luka di lengan yg tadi didapatnya ketika kecelakaan bersamaku sudah tidak ada lagi, hilang.seakan memang tak pernah ada disana.

 

Bagaimana mungkin? Dia berbicara kepada dirinya sendiri, kemudian melihat kearahku

 

Aku membetulkan letak kacamata minusku yg melorot. Kemudian menggeleng

 

“ mungkin kamu mutant” ujarku lagi-lagi mencoba membuat keadaan mencair, tapi sepertinya tak cukup berhasil, karena aku Cuma bisa mengalihkan perhatian ridwan.

 

Ridwan  kemudian mengalihkan pandangannya kepada kami semua.dia akan membuka mulutnya ketika seorang suster manis dan  bohai masuk ke kamar vorest

 

“ngomong-ngomong soal mutant, apa aku terlihat seperti seorang putri?”Ujarnya diikuti taa

 

Entah sengaja atau tidak, tapi kami memaksakan diri untuk tertawa, mencoba melupakan apa yang sudah kami lewati,sampai-sampai anda pun ikut tertawa disela isak tangisnya

 

Aku mengadarkan pandanganku, dan aku baru sadar kalu ternyata Vino dari tadi juga diluar bersama kami. Aku melihatnya sedang berbicara dengan seseorang dngan santai ditelpon. Jujur, Diantara semuanya, dia yang terlihat paling tenang, tidak.dia sangat tenang.seolah hal ini bukan pertama kali baginya. dan sebaliknya, aku merasa ini bukan yang terakhir  buat kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s