KISAH BUKU BERBUNGKUS KERTAS COKLAT

Every dog has its day

Kalimat ini mungkin terdengar terlalu menyalak buat mengantar tulisan ini, tapi sebenarnya maksud dari idiom inggris ini adalah , bahwa setiap kita akan mempunyai masa keemasan masing-masing,apapun jenis kita, baik bulldog, cihuahua, Doberman, golden retriever, Kita punya hari kita masing-masing.

 Just kidding

maksudnya, separah apapun kita, percayalah, kalau paling tidak satu kali seumur hidup kita, roda kehidupan kita akan ada diatas.

Ada kalanya kita menjadi bintang, berada dipuncak, namun ada kalanya pula kita jatuh kejurang terdalam.Pada saat kita jatuh mungkin semuanya terasa menyakitkan, waktu berjalan begitu lambat dan semua yang berada di sekeliling kita seolah menyesak dan menyakiti kita. Pada saat itu,  ada kerennya kita mencoba kembali megingat masa-masa terbaik yang pernah kita lewati.

Saya belum pernah jadi vokalis atau gitaris terbaik, belum pernah menjadi MVP basket,  bahkan dengan ukuran badan diatas manusia normal ini, saya belum pernah disegani sebagai preman penguasa sekolahan. Satu hal yg mungkin saya banggakan, dan bisa dijadikan masa keemasan saya adalah waktu saya bersekolah di SD 09 balai-balai, di sebuah kota kecil yang terletak antara Padang dan Bukittinggi.

Percaya atau tidak saya masih ingat hari pertama saya duduk di bangku sekolah saya, yang sampai sekarang menjadi kenangan keren sendiri buat saya pribadi.

Saat itu ibu guru saya sedang menggambar topi dengan ujung lancip. Dan teman disamping saya bertanya : “manggambar apo ibuk tu ?”

Saya dengan pedenya menjawab : “ibu lagi bikin gambar sultan hasanuddin”

Anak tadi manggut-manggut

Namun sesaat kemudian, ternyata yg muncul di papan tulis bukanlah pahlawan bercambang yg dijuluki ayam jantan dari timur itu, melainkan sebuah muka, dengan tanda tambah pada kedua matanya, dan sebuah bulatan kecil untuk menggantikan hidungnya. Iya, yang didepan itu jelas bukan Sultan Hasanuddin.topi tadi bukanlah penutup kepala sultan Hasanudin yang terdapat di pose2 terkenal lukisan sultan Hasanudin saat itu

Saya memang salah, namun di kemudian hari saya  menyadari yang ‘tidak beres’ dengan saya

Sama tidak beresnya ketika saya menuliskan EKOSISTEM untuk kata yang berawalan E, yang saya entah tahu apa artinya atau tidak.

Dan keanehan itu pun terjawab saat di akhir cawu , ya saat itu masih memakai system catur wulan.

Beberapa saat sebelum pembagian raport, saya iseng mendatangi buk yan, guru kelas 1 saya

“Lai dapek juara wak buk? ( Saya bakal jadi juara ga buk ? )“

Sebuah pertanyaan yang saat ini saya yakin tergolong pertanyaan sia-sia

Buk yan menjawab: dima lo kadapek, awak so mada ( gimana mau  juara, kamu kan nakal!)

Saya terdiam, pasrah

Namun ternyata saat pengumuman juara, saya berhasil meraih juara satu, dikelas satu, catur wulan Satu.

Dan semenjak itu saya berlangaan membawa buku2 yang bersampul kertas coklat sebagai bingkisan bagi pemuncak kelas, memang tak selalu juara satu, soalnya ada bocah kecil bernama Fadila Neswari ( mudah-mudahan dia baca ) yang sering menyalip posisi saya, sehingga saya harus puas berada diposisi dua.saya juga pernah tergelincir ke urutan ranking, bukan juara.namun tetap saja, setiap penerimaan raport, saya berhasil membawa buku2 bersampul kertas coklat itu kerumah, disambut senyum bangga kedua orang tua saya, yang  kemudian menyimpan buku-buku itu disebuah kotak kardus khusus.

“suatu saat nanti,ini akan menjadi pengingat, kalau rayes pernah berada di puncak”

Saat itu saya Cuma mengangguk-angguk, namun di kemudian hari, saya mentyadari satu hal : bunda saya seorang peramal. Ia tau masa-masa itu akan segera datang.

Dan ternyata waktu itu datang terlalu  cepat, di bangku SMP saya cuma memperoleh peringkat  satu selama berada di kelas 2, itupun karena itu kelas biasa, bukan kelas unggulan seperti saat saya dikelas satu. Dam

Saat itulah, buku2 bersampul coklat  bertuliskan juara 1 cawu 1 kelas 1, juara satu kelas 2, cawu 1 dan seterusnya saya keluarkan dari kotaknya dan saya lepas bungkusnya. Sungguh, sampai sekarangs aya masih mengingat saat penuh haru ini.

Dan akhirnya buku2 yang klepnya sudah karatan itu pun saya pakai sebagai pengingat masa-masa itu, namun tetap saja , sampai di  SMA, saya tidak lagi berada di posisi teratas, saya Cuma mahluk yang berada di level aman. Manusia rata-rata.

Buku-buku  itu sekarang sudah tidak ada, dan sampai tulisan ini diturunkan pun saya tidak berada di posisi  bintang. saya sekarang berada di posisi orang2 yang dulu pernah saya sangat takuti berada disana. Saya bukan lagi Hasanuddin yang bisa dingat dan dibanggakan, sehingga foto lukisannya mengisi setiap sudut kelas. Sekarang saya tak lebih  Cuma badut yang dibikin ibu guru dipapan tulis, menghibur kami sebentar kemudian menghilang.

Kadang saya merindukan masa-masa itu, masa masa saya masih dipanggil rayes, bukan ray. Masa-dimana saya sangat takut untuk berbicara dengan lawan jenis. Masa dimana saya pas disandingkan dengan kata MAHACUPU.

Every dog has its day eniwe,

mungkin saya yang baru ini, nantinya akan sampai lagi dipuncak perputaran roda. Semoga saja.mohon doanya.

Advertisements

4 thoughts on “KISAH BUKU BERBUNGKUS KERTAS COKLAT

  1. kalo orang minang bilang” iduik bak roda padati, kadang diateh kadang dibawah”
    it’s so magical rayes, membaca tulisan yang ini. dan saya pun mengingat2 kembali masa yang telah dilalui. “i even had been on the b4, but now i m on the lowest point in life”
    double thumb for this writin, keep remind me about past

  2. kalo orang minang bilang” iduik bak roda padati, kadang diateh kadang dibawah”
    it’s so magical rayes, membaca tulisan yang ini. dan saya pun mengingat2 kembali masa yang telah dilalui. “i even had been on the top b4, but now i m on the lowest point in life”
    double thumb for this writin, keep remind me about past

  3. hahaha..bocah kecil 😛
    tapi kangen jg menerima buku berbungkus kertas coklat lagi
    karena dari tahun ke tahun, buku sudah tidak d bungkus kertas coklat lagi, bahkan cenderung tidak d bungkus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s