SYMBIOSIS chapter one : the roof

CHAPTER ONE : THE ROOF
HENSHIN..CAST OFF

nada alarm ‘henshin’ dari serial kamen rider kabuto membuat seorang pemuda dengan rambut gondrong tak karuan terbangun dari tidurnya. Setelah dengan gerak reflek mematikan alarm di hape nya, Dia mengusap-ngusap matanya yang masih merah, sebentar kemudian mengambil kacamata dari meja kecil di sebelah kasurnya, memasangnya kemudian kembali memperhatikan jam di layar benda kecil tersebut.
22.00 WIB
Setengah malas, anak muda ini berjalan ke kamar mandi yang kebetulan terletak di dalam kamar kost berukuran 3×3 tersebut. Sebuah kamar yang benar-benar sederhana,sebuah kasur lantai,dengan meja kecil disampingnya, diatas meja tersebut ada sebuah laptop yang sepertinya menyala semenjak tadi. disudut kamar berdiris ebuah lemari yang sudah tidak ada pintunya, digantikan police line menyilang yang entah dia dapat dari mana .sementara di dekat lemari .peralatan makan dan minum tersusun dalam sebuah rak kecil.kamar yang cukup rapi untuk ukuran cowo, namun sepi, yang membuatnya ramai Cuma poster film,tokusatsu, manga dan anime yang ditempel di dinding kamar. Terdengar bunyi air gemericik sebentar, kemudian dia sudah terlihat lebih segar dibanding beberapa menit sebelumnya.
Setelah mengeringkan mukanya, dia menyulut sebatang rokok terakhir dari bungkus rokok di atas meja.
“nomor cantik” ujarnya kepada dirinya sendiri sambil tersenyum. Tak lama kemudian dia terlihat sudah menikmati rokoknya dengan sebuah kopi instan yang diseduhnya beberapa menit yang lalu.Kepalanya mengangguk-anguk, mengkuti sebuah lagu soundtrack anime kesukaannya yang entah sudah berapa kali diputar ulang sebelum dia tertidur tadi.setelah rokok di tangannya habis dia pun mematikan laptopnya, memasukannya dalam sebuah tas sandang, mengambil jacketnya, keluar dari kamar .kemudian mengunci pintu yang bertempelkan sebuah stiker :

AREA 51 : HUMAN ARE NOT ALLOWED HERE

***

Pemuda tinggi kurus tadi sekarang sudah berada di area kampusnya. di malam minggu begini, memang kampus tidak menjadi pilihan teratas para mahasiswa, buktinya sedari tadi dia tidak menemukan mahluk berjudul manusia , kecuali satpam di gerbang yang mukanya hampir menyerupai orc, sebuah ras di game yang pernah dimainkannya .dia terus berjalan ke arah dalam, tak jauh di belakang sebuah gedung yang dikenal dengan rektorat, tempat para penguasa kampus melakukan pekerjaan mereka.
Tempat tujuannya adalah sebuah bangunan tua yang kurang populer, awalnya bangunan ini dimaksudkan sebagai rumah sakit praktek bagi fakultas kedokteran, namun entah kenapa, bangunan ini, tidak di lanjutkan pembangunannya.di puncak bangunan berlantai 4 yang belum selesai inilah, dia biasanya menghabiskan malam minggunya, bersama kekasih setianya yang selalu dibawanya kemana –mana : irine, mendownload berbagai macam aplikasi,filem dan serial, atau sekedar membaca manga scan yang hadir tiap minggunya .dia sudah merasa menjadi raja ditempat yang disebutnya THE ROOF ini, karena memang tak ada mahasiswa yang mengaku normal, yang mau bersusah payah Cuma untuk berhot spot ria ke tempat ini.dialah dia cuma satu-satunya, paling tidak sampai beberapa detik yang lalu
Karena saat ini, ketika sampai di ujung tangga dia harus menerima fakta kalau dia bukan satu2nya mahluk yang ada di the roof malam ini , ada mahluk lain yang saat ini sudah menguasai tempatnya.

“ HOI..BEGO ,KAMU UDAH GILA YA !”

Suara seraknya tak ayal membuat membuat sosok yang berdiri di pinggiran gedung itu menoleh.tangannya yang sudah dibentangkannya di turunkannya kembali.pemuda kurus tinggi tadi pun segera berjalan ke arah si penguni baru , sambil menghisap rokok yang baru saja di isi ulangnya dalam perjalanan ke kampus tadi.

“sial, kalau kamu ga ada pasti aku udah mati, “ ujar si penghuni baru pelan, kemudian duduk di lantai teratas the roof tersebut, menghela nafasnya.
Si gondrong senyum kemudian menjawab “ya udah, napa ga kamu lanjutin aja kalo kamu yakin?” balas si gondrong skeptis, sambil duduk disamping si cowok sawo matang berambut cepak itu,menghisap rokoknya dalam.

“Rokok?” tambahnya ke arah lawan bicaranya, si cowok cepak itu Cuma menggeleng,

“ah, atlet sejati harus jauh dari rokok, salut” sadarnya kemudian tanpa menoleh ke lawan bicaranya

“ emang kamu tau siapa aku ?” si penghuni baru sedikit keheranan.

“Edo Elmonde,ekonomi 06, kapten tim futsal kampus, siapa yang ga kenal kamu? Idola wanita sekaligus musuh kaum pria ”

“idola wanita ? kamu tuh sok tau banget ya.. buktinya cewe yang aku taksir sampai sekarang melirik pun tidak !” kata –kata itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut edo.

“ fufufu. Aku bener2 ga nyangka, kapten tim futsal kampus selemah ini, mau bunuh diri Cuma gara-gara cewe,cacad” respon si gondrong sambil mematikan rokoknya.kemudian mengubah posisi duduknya.

“ shit..akun juga ga tau apa yang terjadi ama aku , okelah, di futsal aku bintangnya, tapi ternyata itu ga berimbas apa-apa ama kehidupan di luar futsal , nilai aku hancur-ancuran, sibuk latihan, pertandingan, ini itu, dan yang aku bilang tadi, dia sama sekali ga ngelirik aku , dan lebih parahnyam kampus bangsat ini sama sekali ga ngebantu aku dalam masalah akademis! Shit !” edo berdiri kemudian menendang kerikil2 kecil yang ada di lantai the roof

“ trus mau kamu apa ?” tambah si gondrong sambil menyulut satu rokok lagi.
“ wisuda tahun ini, dan dapetin dia buat calon istri ”

Si gondrong berkacamata minus ini pun tertawa.

“ yah, silahkan tertawa, hal itu memang mustahil, aku sadar nilai aku hancur banget” ceritanya tanpa ditanya.

Lawan bicaranya terdiam sebentar, memutar-mutar rokok diantara jarinya.kemudian berdiri disamping edo yang menatap ke area kampus, “ kalau jalan itu ada, kamu mau usaha ?” lanjutnya sambil membetulkan letak kacamatanya.

“aku bakal lakuin apa aja ”

“ kamu yakin?”

“ yakin!”

“ oke,aku akan bantuin dapetin bidadari idaman kamu.kamu tinggal tunjukin ke aku , dan selanjutnya itu jadi urusan aku,dan soal akademis, kita akan bekerjasama mengubah itu semua “

edo diam sebentar, melongo, kemudian tertawa

“ hahahahahhahaa!! Kamu punya jaminan apa, sorry kawan, tapi kamu sama sekali ga meyakinkan dalam soal ini”

“ terserah kamu , aku emang ga bisa ngasih kamu jaminan apa-apa sekarang, terserah kamu juga nerima tawaran ini apa ga. asal kamu tau, ga ada untungnya juga buat aku,jadi.. silahkan lakukan apa yang anda mau ….kapten..” dan si gondrong pun berjalan meninggalkan edo, mengambil posisi duduk, masih tak jauh dari tempat edo berdiri.

Edo berpikir sejenak, tubuh tegapnya sekarang sedikit gemetar.maklum, jacket tidak ada dalam rencana bunuh dirinya, beda dengan mahluk satunya yang sudah persiapan dengan segala sesuatunya, sekarang mahluk itu tengah mengeluarkan laptop dari tasnya.

“baiklah.aku terima.apa rencanamu? “ brondong edo tiba-tiba

Si gondrong tersenyum

“tidak sekarang..aku akan kasih tau kamu beberapa hari dari sekarang, save nomor hapemu disini, dan bersiap-siap dengan panggilan dari aku ”

Edo mengambil hape ditangan lawan bicaranya , menekan beberapa nomor dan mengembalikanya ke pemiliknya

“oke, tunggu tanggal mainnya “

“ shit, sejujurnya aku ga percaya, tapi, apa boleh buat, ini Cuma karena aku ga punya pilihan apa-apa.lets see” ujar edo sambil mengangkat bahunya

“sama, aku juga ga percaya kapten tim futsal sampai selemah ini “ lawan bicaranya membalas sambil tersenyum

“whatever, kalo bisnis ini udah selesai ,aku mau balik, dingin banget, cuma orang aneh yang betah berlama-lama disini” dan berbalik ke arah pintu

“hei, kamu yakin ga jadi lompat?” pertanyaan tiba-tiba ini membuat edo kembali berbalik menghadap si penanya

“ah, terima kasih sudah menghentikan aku dari perbuatan bodoh itu ” jawab edo terlihat malu.seperti bisa membaca arah pertanyaan si penanya.

“jangan sungkan.walaupun aku ga datang, aku ga yakin kamu berani lompat”

“terserahlah, aku balik duluan, “ edo pun melangkah ke arah pintu tangga. kemudian berbalik kembali.

“sorry, perasaan aku perlu tau siapa kamu “

“ray, sastra inggris 04 “ ujar si gondrong sambil menyulut lagi rokoknya

” salam kenal. satu saranku ray , mending kamu berhenti sekarang , sebelum telat” tambah edo

Ray Cuma tersenyum kemudian menghirup kembali bungkusan tembakau tersebut, edo geleng –geleng kepala , membuka pintu dan menuruni tangga the roof,

Ray duduk bersila, merapatkan jaket nya, kemudian menghadap monitornya..

“its show time,” katanya pelan.

Dan sekali lagi, dia kembali jadi satu-satunya penghuni the roof, sendirian, ditemani angin malam yang berhembus pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s